PWP-PG Luncurkan PANGKO: Akulturasi Fashion Sunda-Gorontalo di Karnaval Karawo 2025

oleh -384 Dilihat
PWP Pusat Gorontalo saat mengenakan PANGKO untuk bersiap tampil di Gorontalo Karnaval Karawo 2025. Foto/Indo24jam.id

INDO24JAM.ID, Gorontalo – Paguyuban Warga Pasundan Pusat Gorontalo (PWP-PG) tampil memukau dalam ajang Gorontalo Karnaval Karawo 2025 yang digelar di Jalan Ario Katili, depan Grand Palace Convention Centre (GPCC), Sabtu (27/9/2025).

Meski diguyur hujan rintik, suasana karnaval tetap semarak. Ribuan warga memadati sepanjang jalan untuk menyaksikan parade kostum dan kreasi budaya dari berbagai komunitas dan daerah.

Di tengah gemerlapnya acara, PWP-PG mencuri perhatian dengan meluncurkan baju adat baru bernama “PANGKO”, simbol akulturasi budaya antara Sunda dan Gorontalo.

Ketua Umum PWP-PG, Dr. H. Adnan, M.Ag, yang akrab disapa Kang Adnan, menjelaskan bahwa PANGKO merupakan singkatan dari Pangsi dan Karawo, dua elemen busana tradisional yang merepresentasikan identitas budaya Sunda dan Gorontalo.

“Peluncuran PANGKO ini adalah bentuk kontribusi aktif kami dalam mengembangkan industri fashion berbasis budaya lokal. Ini kolaborasi antara pangsi, pakaian adat Sunda, dan karawo, kain sulaman khas Gorontalo,” ujar Kang Adnan.

Secara konseptual, Pangsi adalah setelan tradisional pria Sunda berupa baju longgar dan celana longgar sepanjang mata kaki. Sementara Karawo merupakan kain sulam tangan khas Gorontalo yang dikenal keindahan motifnya dan telah menjadi ikon budaya daerah.

Perpaduan keduanya melahirkan PANGKO, busana yang tak hanya menampilkan harmoni estetika dua budaya, tetapi juga sarat makna filosofis. Dalam bahasa Gorontalo, pangko berarti batang pohon aren yang keras dan kuat.

“Makna simbolik dari PANGKO adalah agar siapa pun yang mengenakannya memiliki jiwa yang kuat dan kokoh dalam menghadapi tantangan zaman, serta mampu memberi makna dan dampak positif bagi lingkungannya,” tambah Kang Adnan.

Kehadiran PANGKO dalam Karnaval Karawo 2025 menjadi penegasan bahwa Gorontalo bukan hanya ruang ekspresi budaya lokal, tetapi juga wadah perjumpaan dan harmoni antarbudaya nusantara.

Dengan inovasi ini, PWP-PG membuktikan bahwa fashion bisa menjadi media persaudaraan dan jembatan nilai-nilai kearifan antar daerah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *