Beda Nasib Lukum Diko dan Dheninda Chaerunnisa, Meski Beri Himbauan Sama

oleh -2098 Dilihat
Dua Anggota DPRD Gorontalo Utara yang memberikan himbauan yang sama namun berbeda nasib. Foto/Istimewa

INDO24JAM.ID, Gorontalo Utara — Dua anggota DPRD Gorontalo Utara, Lukum Diko dari Fraksi Golkar dan Dheninda Chaerunnisa dari Fraksi NasDem, sama-sama menyerukan hal serupa: jangan percaya pada calo dalam proses penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.

Namun ironisnya, nasib keduanya berujung berbeda. Jika Lukum mendapat apresiasi atas sikapnya yang tegas, Dheninda justru dihujani kritik, dituding mencibir demonstran, dan menjadi pusat kontroversi nasional setelah video ekspresinya viral di media sosial.

Awal Mula: Imbauan Anticalo

‎Isu bermula dari maraknya kabar adanya praktik percaloan dalam proses penginputan data PPPK Paruh Waktu di Kabupaten Gorontalo Utara.

Melihat keresahan itu, Anggota DPRD Fraksi Golkar, Lukum Diko, mengeluarkan pernyataan tegas melalui wawancara dengan Publishare.id. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur oleh janji-janji calo.

Hal itu disampaikan Lukum saat mengawal ketat proses finalisasi penginputan data Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Paruh Waktu untuk Kabupaten Gorontalo Utara pada (8/10/2025).

“Lewat media ini saya tegaskan, jangan memberi uang kepada siapapun dengan iming-iming untuk meloloskan nama menjadi tenaga P3K. Karena proses perekutan tenaga P3K ini sama sekali tidak dipungut biaya sepeserpun,” tegas Lukum.

Pernyataan Lukum kemudian mendapat sambutan positif. Banyak pihak menilai langkahnya tepat untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas seleksi aparatur di daerah. Ia dianggap turut memperkuat kepercayaan publik terhadap integritas proses rekrutmen yang sedang berlangsung.

Kasus Serupa, Tapi Berujung Beda

Beberapa waktu setelah imbauan Lukum viral, anggota DPRD lain, Dheninda Chaerunnisa, juga menyampaikan pesan serupa. Ia mengaku tersentak ketika seorang karyawan orang tuanya datang menemuinya untuk meminjam uang. Tujuannya, untuk membayar seseorang yang menjanjikan bisa meloloskan anaknya menjadi PPPK.

Merasa prihatin dan tak ingin ada korban, Dheninda kemudian mengeluarkan imbauan publik melalui media lintas-publik.com, meminta masyarakat agar tidak memberikan sepeser pun kepada pihak mana pun yang mengaku bisa membantu meloloskan nama dalam seleksi PPPK.

Namun, pernyataannya justru menyulut reaksi keras dari sebagian aktivis yang merasa tersinggung. Mereka menilai imbauan Dheninda seolah menuding adanya calo di kalangan mereka, padahal menurut mereka aksi-aksi yang dilakukan murni untuk memperjuangkan nasib para tenaga honorer.

Himbauan biasa “Jangan berikan sepeserpun kepada Calo” seolah dipelintir dan menjadi bola liar dikalangan masyarakat. Hal itu tertuang dalam salah satu media yang mengeluarkan narasi bahwa Dheninda menuding Calo itu adalah aktivis.

‎Padahal himbauan Dheninda hanya sebatas jangan percaya terhadap calo, bukan menuding bahkan menyebutkan pihak-pihak tertentu.

Demo dan Video Viral

Pada Senin (13/10/2025), sekelompok massa yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Peduli Gorontalo Utara (AMP-Gorut) menggelar demonstrasi di depan kantor DPRD Gorut. Mereka menuntut klarifikasi atas pernyataan Dheninda yang dianggap menyinggung perjuangan mereka.

‎Di tengah aksi tersebut, kamera seseorang menangkap momen Dheninda berdiri di depan kantor DPRD. Dalam rekaman singkat itu, ia terlihat menaikkan bibir, sebuah gestur yang kemudian ditafsirkan publik sebagai “cibiran” terhadap orator aksi.

Video berdurasi beberapa detik itu langsung viral di media sosial dan memicu badai komentar. Netizen memaki dan menghujat Diny secara terus-terusan. Semua postingan mengenai Anggota DPRD Gorontalo Utara Dheninda Chaerunnisa dihujat, bahkan akun medsos pribadi hingga medsos orang tuanya juga dihujani hujatan.

Penjelasan Dheninda: Salah Paham dan Reaksi Spontan

Menanggapi viralnya video tersebut, Dheninda akhirnya memberikan klarifikasi. Ia membantah keras tudingan bahwa dirinya mencibir demonstran. Menurutnya, reaksi wajah itu muncul spontan saat ia melihat karyawan orang tuanya yang ternyata berada dibelakang  barisan pendemo. Beberapa warga bahkan dikabarkan mengawal dan melindungi Dheninda saat didemo aktivis Gorut. Tujuannya satu, memastikan Dheninda baik-baik saja ketika di Demo.

‎“Saya tidak mencibir siapa pun. Waktu itu saya sedang berbicara melalui gestur dengan karyawan orang tua saya yang berada di belakang barisan para pendemo, gestur saya bilang saya akan hadapi ini, saya juga sempat manyun itu sebagai respon oo ternyata kalian (pendukung dheninda) juga ada,” jelas Dheninda.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas kegaduhan yang terjadi dan menegaskan dukungannya terhadap proses seleksi PPPK yang bersih, transparan, dan tanpa pungutan.

Mengapa Nasibnya Beda?

‎Meski substansi imbauan Dheninda dan Lukum identik sama-sama mengingatkan agar masyarakat tak percaya pada calo, namun respon publik berbeda jauh.

‎Lukum Diko mendapat apresiasi dan dianggap berani, sementara Dheninda dihujat, dituding arogan, bahkan dijadikan bahan sindiran politik.

Beberapa pengamat menilai, perbedaan nasib ini bukan semata karena isi pesan, tetapi karena konteks sosial dan visual yang mengiringinya. Pernyataan Lukum disampaikan secara formal dan tenang di media, sedangkan Dheninda terseret dalam konflik terbuka di lapangan yang sudah penuh emosi massa, kemudian diperburuk oleh potongan video tanpa konteks yang cepat menyebar.

Refleksi: Dua Pesan, Satu Makna

‎Kasus ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana narasi publik bisa berubah hanya karena difitnah dan digiring. Dua anggota DPRD, dengan pesan moral yang sama “jangan percaya calo” namun menerima nasib berbeda: satu dipuji, satu diserang.

‎Namun di balik semua perdebatan, substansi dari kedua imbauan itu sesungguhnya sama dan patut diapresiasi, menjaga agar proses penerimaan PPPK berjalan bersih, transparan, dan bebas dari praktik jual-beli jabatan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.