INDO24JAM.ID, Gorontalo — Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Adnan M.Ag atau yang akrab disapa Kang Adnan, menegaskan bahwa santri memiliki kontribusi besar dan berkelanjutan dalam mengawal kemerdekaan Indonesia hingga membangun peradaban dunia.
Hal ini disampaikannya dalam refleksi peringatan Hari Santri Nasional 2025 yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”
Menurut Kang Adnan, tema tersebut mengandung makna mendalam tentang peran santri sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan sekaligus pelopor peradaban yang berlandaskan moral dan spiritual.
“Santri bukan hanya pejuang masa lalu, tetapi juga penjaga masa depan. Mereka mengawal kemerdekaan Indonesia dengan ilmu, moral, dan dedikasi terhadap bangsa,” ujar Kang Adnan.
Ia menjelaskan, kontribusi santri telah nyata sejak masa penjajahan. Pesantren kala itu menjadi basis perlawanan terhadap kolonialisme, tempat pendidikan kebangsaan, serta wadah penyebaran semangat perjuangan.
Puncak peran santri, kata Kang Adnan, terlihat melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang menyerukan kewajiban umat Islam untuk melawan penjajah.
“Fatwa jihad itu memicu lahirnya laskar-laskar santri seperti Hizbullah dan Sabilillah. Semangat jihad inilah yang menjadi pendorong utama dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kini kita kenal sebagai Hari Pahlawan,” jelasnya.
Selain berjuang di medan tempur, para santri juga berperan dalam diplomasi dan politik. Banyak di antara mereka yang terlibat dalam perumusan dasar negara dan penguatan organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU). Tokoh santri seperti KH. Wahid Hasyim, lanjutnya, menjadi salah satu perumus nilai-nilai dasar negara Indonesia.
Kang Adnan menegaskan bahwa hingga kini, santri tetap menjadi penjaga moralitas bangsa. Mereka berperan menjaga keutuhan NKRI dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang berpijak pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Santri adalah pewaris perjuangan. Mereka tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menanamkan cinta tanah air. Pesantren menjadi benteng moral di tengah arus globalisasi yang serba cepat,” tuturnya.
Menurutnya, tantangan santri kini berbeda dengan masa penjajahan. Di era digital, santri dihadapkan pada krisis moral, arus informasi tanpa batas, dan disrupsi teknologi. Namun Kang Adnan optimistis, santri masa kini mampu beradaptasi.
“Santri era modern tidak lagi gagap teknologi. Mereka justru melek digital—membuat konten dakwah, mengelola sistem pesantren secara digital, bahkan ikut dalam inovasi teknologi,” ujarnya.
Pesantren, lanjutnya, kini telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan sains modern, menyiapkan santri untuk menghadapi dunia global tanpa kehilangan jati diri.
Kang Adnan menutup refleksinya dengan pesan bahwa santri hari ini harus tampil sebagai agen perubahan dan penggerak peradaban Islam rahmatan lil alamin.
“Santri bukan hanya penjaga kitab kuning, tetapi juga penjaga moral bangsa dan pembangun peradaban dunia yang damai dan berkeadilan,” pungkasnya.
Hari Santri Nasional, yang diperingati setiap 22 Oktober, menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan, sekaligus meneguhkan kembali semangat mereka dalam membangun Indonesia yang beradab dan bermartabat di mata dunia. (*)









