Majelis Ta’lim an-Nasihin PWP-PG Bahas Kesombongan sebagai Sedekah

oleh -258 Dilihat

‎INDO24JAM.ID, Bone Bolango — Majelis Ta’lim an-Nasihin Paguyuban Warga Pasundan Pusat Gorontalo (PWP-PG) kembali menggelar kegiatan rutin keagamaannya melalui kajian bertema “Kesombongan sebagai Sedekah” di kediaman Bapak Rully dan Ibu Risnur Pratiwi, Desa Permata, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (29/11/2025).

‎Kegiatan dimulai dengan pembacaan Surat Yasin dan Khatam Qur’an yang dipandu oleh Ustadzah Maryatun, sebelum dilanjutkan dengan kajian inti yang disampaikan oleh Ketua Umum PWP-PG, Dr. H. Adnan, M.Ag, atau yang akrab disapa Kang Adnan.

‎Dalam pemaparannya, Kang Adnan mengulas secara mendalam ungkapan populer “sombong kepada orang sombong adalah sedekah” atau atakabbur alal mutakabbir shodqah.

‎Ia menegaskan bahwa ungkapan tersebut tidak ditemukan dalam hadis Rasulullah SAW yang memiliki sanad kuat. Bahkan sebagian ulama menilai ungkapan tersebut sebagai hadis maudhu (palsu). Meski begitu, maknanya dianggap benar oleh sebagian ulama karena selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis lain terkait amar makruf nahi mungkar.

‎“Ungkapan ini dipahami sebagai bentuk peringatan kepada orang yang sombong agar ia tersadar dari kesalahannya. Sikap ‘kesombongan’ yang ditunjukkan bukanlah kesombongan hati, tetapi respon perilaku yang bersifat pedagogis,” jelas Kang Adnan.

‎Ia menegaskan bahwa konteks ungkapan tersebut hanya berlaku untuk menghadapi orang sombong yang merendahkan orang lain. Adapun sikap sombong kepada orang miskin, fakir, atau para ulama adalah perbuatan yang dilarang keras oleh Nabi Muhammad SAW.

‎Dalam penjelasannya, Kang Adnan turut mengutip Lubab al-Hadits, yang menyebutkan pernyataan serupa: “Bersikap sombonglah kamu kepada orang yang sombong, karena itu adalah sedekah.”

‎Namun ia kembali menekankan bahwa maksudnya bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk meruntuhkan kesombongan lawan.

‎Ia memberikan beberapa contoh teladan, Nabi Sulaiman AS pernah menunjukkan sikap wibawa luar biasa ketika memindahkan istana Ratu Balqis sebagai bentuk penegasan kekuasaan Allah, bukan kesombongan diri.

‎Umar bin Khattab juga pernah mengenakan pakaian terbaik saat bertemu kaisar Romawi, bukan untuk pamer melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap kedudukan tamu negara.

‎“Sikap lahiriah ini dilakukan sebatas penampilan dan tindakan luar tidak boleh disertai kesombongan dalam hati,” tegasnya.

‎Kajian ini dihadiri oleh Kasepuhan PWP-PG Abah Asep Solihin, Bendahara Umum Hardy Abdullah Salam, Ketua Cabang Boalemo Lasijan, Pengawas PWP-PG Cabang Gorontalo Ir. Abdurrahman K. Muhammad, M.Si, Bendahara Cabang Gorontalo Yuyun Wahyuni, serta para pengurus dan jamaah Majelis Ta’lim an-Nasihin.

‎Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan silaturahmi antarjamaah. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman umat tentang akhlak dan hikmah dalam menyikapi perilaku manusia, termasuk bagaimana menghadapi kesombongan tanpa terjerumus dalam sifat tercela. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.