Kang Adnan Kupas Makna Jenggot dalam Perspektif Islam

oleh -248 Dilihat

INDO24JAM.ID, Gorontalo – Kajian Subuh di Masjid Rahmatullah II Perumahan Misfalah Rasaindo pada Sabtu (6/9/2025) berlangsung penuh khidmat.

Mengangkat tema “Memahami Jenggot dalam Tinjauan Islam”, kajian ini dipandu oleh Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Adnan, M.Ag, atau yang akrab disapa Kang Adnan.

Tema tersebut diangkat bertepatan dengan peringatan Hari Jenggot Sedunia yang jatuh pada Sabtu pertama bulan September.

Hari yang unik ini dirayakan di berbagai belahan dunia untuk menghormati segala bentuk dan gaya jenggot, dari yang rapi hingga yang tumbuh liar.

Dalam penjelasannya, Kang Adnan memaparkan bahwa secara historis jenggot telah memiliki makna beragam.

Mulai dari penampilan William Shakespeare dengan jenggot Van Dyke, Abraham Lincoln yang menumbuhkan cambang karena saran seorang gadis muda demi mendapatkan simpati rakyat, hingga band legendaris ZZ Top yang identik dengan jenggot panjang.

Bahkan, rekor dunia masih dipegang Hans Langseth dengan jenggot mencapai panjang 5 meter.

Namun, dalam perspektif Islam, pembahasan jenggot kerap merujuk pada hadis Nabi SAW.

Salah satunya yang diriwayatkan Muslim: “Potonglah kumismu dan biarkan jenggotmu panjang.” Hadis lainnya berbunyi: “Berbedalah dengan orang musyrik, potong kumismu dan biarkan jenggotmu panjang.”

Kang Adnan mengutip pandangan Kiai Ali Mustafa yang menekankan pentingnya memahami hadis secara utuh, tidak sepotong-sepotong.

Menurutnya, hadis tentang jenggot terkait erat dengan konteks mukhalafah lil musyrikin, yaitu upaya membedakan umat Islam dengan orang musyrik pada masa peperangan.

“Dengan konteks itu, jenggot lebih sebagai simbol pembeda pada masa tertentu, bukan sebagai aturan baku untuk diikuti sepanjang zaman. Karena itu, jenggot tidak bisa dijadikan standar keislaman seseorang,” jelasnya.

Ia menegaskan, berjenggot atau tidak adalah bagian dari budaya, bukan esensi agama. “Silakan saja berjenggot.

Tapi jangan sampai menganggap mereka yang tidak berjenggot sebagai orang yang tidak mengikuti sunah Nabi,” tegas Kang Adnan.

Kajian Subuh ini diikuti oleh jamaah Masjid Rahmatullah II dan masyarakat sekitar dengan suasana penuh antusiasme dan kekhusyukan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.