INDO24JAM.ID, Gorontalo – Dalam rangka memperingati Pekan Air Susu Ibu (ASI) Sedunia atau World Breastfeeding Week yang jatuh pada 1–7 Agustus 2025, Dr. Adnan, M.Ag akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo yang akrab disapa Kang Adnan menyampaikan khutbah Jum’at penuh makna tentang pentingnya ASI dalam Islam di Masjid As-Shahabah, Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, Jumat (1/8/2025).
Dalam khutbah bertema “Kontribusi Air Susu Ibu (ASI) bagi Kecerdasan dan Imunitas Tubuh Bayi dalam Islam,” Kang Adnan menegaskan bahwa pemberian ASI bukan hanya perintah medis, tapi juga spiritual.
Ia mengutip Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 233 yang menyatakan pentingnya para ibu menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh sebagai bentuk kasih sayang, nutrisi, dan perlindungan dari penyakit.
“Ayat ini tidak hanya membahas makanan terbaik untuk bayi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi pencegahan stunting yang saat ini menjadi isu global,” ujar Kang Adnan dalam khutbahnya.
Ia menjelaskan bahwa menyusui selama dua tahun penuh merupakan bentuk kesempurnaan penyusuan. ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, kata dia, telah terbukti mampu memperkuat sistem imun, mencegah infeksi, dan mendukung pertumbuhan otak yang optimal.
Tak hanya itu, menyusui juga mengurangi risiko penyakit serius, baik bagi bayi maupun ibunya.
Mengutip data dari buku Keajaiban ASI karya Nurheti Yuliarti, Kang Adnan menyampaikan bahwa menyusui bisa menurunkan risiko ISPA hingga sepertiga, mencegah diare hingga 50 persen, serta mengurangi penyakit usus serius pada bayi prematur hingga 58 persen.
Bagi ibu, menyusui bahkan bisa menurunkan risiko kanker payudara sebesar 6–10 persen.
Dari perspektif tafsir, Kang Adnan merujuk pada pendapat Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, yang menyatakan bahwa ayat tersebut merupakan perintah yang kuat untuk menyusui.
Ia menambahkan bahwa kata “al-walidat” dalam ayat itu mencakup bukan hanya ibu kandung, tetapi juga ibu sambung, meski secara emosional dan biologis, ASI dari ibu kandung tetap yang terbaik.
Ia juga menyinggung perspektif fiqih dari Imam Al-Baghawi dalam Ma’alimut Tanzil, bahwa menyusui selama dua tahun merupakan anjuran (istihbab), bukan kewajiban mutlak, tetapi ibu kandung tetap lebih berhak untuk menyusui anaknya.
Menurutnya, peran ayah juga tidak boleh diabaikan. Dalam Islam, ayah wajib menafkahi ibu yang menyusui, bahkan setelah bercerai, sebagai bagian dari tanggung jawab atas kesejahteraan anak.
“ASI adalah bentuk cinta yang nyata. Ia menyatu dengan perintah agama, kasih ibu, dan tanggung jawab ayah,” lanjut Kang Adnan.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa menyusui adalah proses spiritual yang mempererat ikatan emosional antara ibu dan anak.
Detak jantung ibu yang dikenal sejak dalam kandungan, kata Kang Adnan, memberikan rasa aman pada bayi saat menyusu, menciptakan kenyamanan psikologis yang tak bisa digantikan.
Khutbah ini pun menjadi pengingat penting bagi umat Islam akan peran sentral ibu dalam mencetak generasi sehat, cerdas, dan berakhlak. Menyusui bukan sekadar aktivitas biologis, tetapi ibadah yang bernilai pahala dan keberkahan.









