INDO24JAM.ID, Gorontalo — Ada air mata yang nyaris jatuh pagi itu di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Amal Soleh, Jumat (17/10/2025).
Di tengah tawa kecil dan tangan-tangan mungil yang menggenggam erat ujung bajunya, Dheninda Chairunnisa, Anggota DPRD Kabupaten Gorontalo Utara sekaligus Ketua Komisi III, menunduk haru.
“Mereka tidak mau saya pulang,” katanya pelan.
Kunjungan Dheninda kali ini bukan sekadar agenda politik, tapi sebuah perjalanan nurani. Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14 Partai NasDem, yang jatuh pada 11 November 2025.
Politisi muda itu memilih jalan sunyi, menyalurkan kasih untuk mereka yang paling sering dilupakan, anak-anak tanpa keluarga, bayi tanpa pelukan ibu, dan bocah-bocah kecil yang belajar bertahan dalam sepi.
“Kegiatan ini adalah bagian dari instruksi DPP Partai NasDem. Kami diminta melakukan aksi sosial, donor darah, dan kegiatan kemanusiaan. Tapi saya memilih anak-anak karena dari merekalah kita belajar tentang ketulusan,” ujar Dheninda kepada Indo24jam.id.
Dengan senyum yang nyaris tak bisa menyembunyikan keharuan, Dheninda datang membawa 30 paket bantuan berisi perlengkapan bayi dan kebutuhan anak-anak.
Di dalam ruangan sederhana itu, dua bayi yang dulu ditemukan terlantar kini tidur tenang di ayunan kain lusuh.
“Tadi saya bawa minyak telon dan perlengkapan seadanya,” katanya.
“Tapi setelah ngobrol dengan pengurus, saya tahu kebutuhan terbesar mereka, susu, popok, dan pakaian bayi. Besok saya akan kembali lagi membawa semua itu,” tambahnya
Namun yang paling mengguncang hatinya bukan hanya anak-anak di RPSA. Saat melangkah ke pemukiman sekitar, Dheninda menemukan kenyataan lain yang membuat dadanya sesak.
Empat anak yang tak lagi bersekolah, karena tak memiliki seragam dan tas. Salah satunya bahkan hidup bersama kakek-nenek yang renta dan sakit-sakitan.
“Saya lihat sendiri, anak itu begitu sopan, tapi pandangannya kosong. Saya tanya kenapa tidak sekolah, dia bilang malu, karena teman-temannya punya seragam, sementara dia tidak. Saat itu saya berjanji dalam hati mereka harus kembali ke sekolah,” tutur Dheninda.
Besoknya, ia bertekad kembali membawa empat paket lengkap perlengkapan sekolah untuk anak-anak itu, juga mainan dan pakaian anak-anak untuk penghuni RPSA dan warga sekitar.
“Mereka pantas bahagia,” ujarnya.
Dheninda mengaku, di antara anak-anak yang ia temui, ada satu anak yang luar biasa cerdas, tapi terpaksa berhenti sekolah karena himpitan ekonomi.
“Saya juga bermitra dengan Dinas Pendidikan, jadi persoalan ini sangat dekat dengan saya. Anak-anak seperti dia mereka bukan beban, mereka masa depan. Hanya saja, belum ada yang menggandeng tangan mereka,” katanya lirih.
Di tengah percakapan itu, Dheninda terdiam sejenak. Matanya menerawang jauh, seperti menatap sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain.
“Saya ingin aksi seperti ini jadi kegiatan rutin setiap bulan. Karena setiap kali datang ke sana, saya merasa belajar lagi tentang arti sederhana dari kasih, tentang bagaimana anak-anak kecil bisa mengajarkan kita apa itu keteguhan,” terangnya
“Mereka memeluk saya erat saat hendak pulang. Tidak mau lepas. Rasanya seperti diingatkan, bahwa kadang cinta datang dari tempat yang paling tak kita duga,” pungkasnya.
Hari itu, di antara tawa kecil dan air mata yang tertahan, Dheninda Chairunnisa tidak sekadar datang membawa bantuan.
Ia datang membawa harapan bahwa di tengah hiruk-pikuk politik dan ambisi, masih ada ruang bagi kemanusiaan yang tulus. Dan dari Rumah Perlindungan itu, gema kecil kasih sayang mulai menyebar, satu pelukan demi satu pelukan. (*)







