Senyum yang Disalahpahami: Saat Kebenaran Dipotong dan Kebaikan Dihukum

oleh -214 Dilihat
Senyum Dheninda Chaerunnisa yang disalahartikan. Foto/Istimewa.

‎Oleh Ferna Qitara Yusuf

‎INDO24JAM.ID, Gorontalo – Ada masa di mana kebenaran bisa dipotong, dijual dalam tiga detik video, dan disulap menjadi fitnah yang lebih cepat menyebar daripada niat baik.

Dan di masa itulah, Dheninda Chaerunnissa (Dhini) harus berdiri sendirian, perempuan muda, wakil rakyat yang tulus, yang dihukum bukan karena salah, tapi karena senyumnya direkam dari sudut yang salah.

Sejak awal, Dini tidak bicara untuk menyerang siapa pun. Ia hanya mengingatkan: “Jangan percaya pada siapa pun yang meminta uang dengan janji meloloskan PPPK.”

‎Itu kalimat sederhana, kalimat yang seharusnya disambut dengan “terima kasih”. Tapi dunia digital tak mengenal niat.

‎Yang dipotong bukan kata-katanya, melainkan maknanya. Yang disebar bukan pesannya, melainkan gesturnya. Dan seketika, orang-orang menilai, tanpa mau mendengar utuh.

Padahal di lapangan, Dini tersenyum, sabar, menenangkan massa, berdiri dengan sopan di hadapan mereka yang berteriak. Ia tak membentak, tak meninggikan suara, tak membalas. Ia hanya berdiri, tetap ramah di tengah riuh. Dan anehnya, justru itulah yang dijadikan alasan untuk menyerangnya.

Kalau Begini, Dimana Salahnya Dini? Apa kesalahannya? Apakah mengingatkan rakyat agar tidak jadi korban calo adalah dosa? Apakah menjaga kemurnian proses seleksi adalah penghinaan? Apakah niat baik kini harus disalahkan hanya karena terekam dari sudut kamera yang berbeda?

Kalau begitu, dunia sudah benar-benar terbalik. Yang menipu dilindungi, yang mengingatkan diserang. Yang memperjuangkan kejujuran, justru dicurigai. Bukankah yang diperangi Dini adalah praktik kotor yang selama ini merugikan rakyat kecil? Calo-calo yang menjual janji dengan harga keputusasaan.

Dan ketika ia berani berkata jujur tanpa tuduhan, tanpa kepentingan pribadi justru ia ditarik ke dalam pusaran fitnah.

‎Senyum yang terekam itu bukan senyum meremehkan, itu senyum menahan badai, senyum yang lahir dari keyakinan bahwa niat baik tak perlu dibuktikan dengan amarah.

Dalam budaya Gorontalo, tanggalo berarti menahan diri tetap halus ketika dihina, tetap ramah ketika disalahpahami.

Dan Dini memilih itu. Ia memilih jalan yang tidak populer: jalan tenang di tengah riuh.

Seorang pemimpin sejati tidak menandingi rakyatnya dengan emosi, tapi menenangkan mereka dengan kelembutan. Itulah yang Dini lakukan hari itu.

Hari-hari ini, banyak yang berteriak tentang “sikap Dini”, tapi sedikit yang berani bicara tentang sikap calo. Padahal calo-lah yang mempermainkan nasib warga, mengambil uang dengan janji palsu, dan membuat banyak keluarga kehilangan harapan. Dini tidak merugikan siapa pun, justru ia sedang melindungi mereka dari jebakan itu.

Namun anehnya, suara jujur seperti itu malah diputar menjadi kesombongan. Maka kita patut bertanya: apakah yang sedang kita bela hari ini kebenaran, atau kepentingan mereka yang takut kebenaran terbuka?

Kembalilah ke Adab Gorontalo. Gorontalo adalah tanah adab, bukan tanah caci. Di sini kita diajarkan motoloboto, duduk bersama sebelum menilai, dan huyula, saling menolong, bukan saling menjatuhkan.

Mungkin inilah saatnya kita kembali mengingat siapa diri kita. Kita bukan bangsa pemburu salah, kita bangsa pencinta keadilan.

Dan adil artinya: menilai dengan hati, bukan dengan potongan video. “Budi lo tohulanga, adati lo lipu.” Budi pekerti adalah wajah pribadi, adat adalah wajah negeri.

Dhini tidak sedang melawan siapa pun. Ia hanya berdiri di sisi kebenaran yang sederhana: bahwa rakyat harus selamat dari calo, dan proses PPPK harus bersih dari jual-beli harapan.

Jika kebaikan semacam itu dianggap kesalahan, maka mungkin yang salah bukan Dini, tapi cara kita melihat. Karena kebenaran yang utuh tak akan pernah muat dalam tiga detik video, tapi akan selalu terasa di hati yang jernih.

Kadang yang terkuat bukan yang berteriak paling lantang, tapi yang tetap tersenyum ketika difitnah. Dan mungkin, itu sebabnya Dini tidak kalah, karena ia tidak berhenti berbuat baik, meski disalahpahami. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.