Viral Dugaan Belatung di Makanan MBG, SPPG Telaga: Itu Telur Lalat, Bukan Belatung

oleh -44 Dilihat
Kepala SPPG Telaga, Celine Kukus. Foto/Indo24jam.id

INDO24JAM.ID, Gorontalo – Warganet Gorontalo sempat dihebohkan oleh video yang menampilkan dugaan belatung di makanan Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa SMA Negeri 1 Telaga.

Video itu ramai dibagikan di media sosial pada Kamis (9/10/2025) dan langsung memancing reaksi publik.

‎Nah, biar nggak simpang siur, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Telaga, Celine Kukus, akhirnya buka suara. Ia memastikan bahwa benda kecil dalam makanan itu bukan belatung, tapi telur lalat.

“Saya langsung turun ke sekolah waktu kejadian. Setelah dicek, memang ada telur lalat di satu ompreng ayam, bukan belatung seperti yang ramai disebut,” jelas Celine, Jumat (10/10/2025).

Baca juga: Dugaan Belatung di Makanan MBG SMAN 1 Telaga Viral, Pihak Sekolah Beri Penjelasan

Menurut Celine, pihak sekolah juga sudah punya bukti video dan foto yang memperlihatkan kondisi makanan tersebut. Makanan yang ditemukan bermasalah pun langsung ditarik dan diganti dengan menu baru.

“Yang kena cuma satu ompreng dari ribuan penerima manfaat di wilayah Telaga. Jadi tidak menyeluruh,” ujarnya.

Sebagai informasi, program MBG di Telaga ini menjangkau 3.199 penerima manfaat dari 9 sekolah dan 1 posyandu. Jadi, kasus telur lalat ini bisa dibilang sangat kecil tapi tetap jadi bahan evaluasi serius.

Menariknya, ini bukan kali pertama SPPG Telaga menghadapi insiden semacam ini. Celine mengaku sebelumnya juga sempat viral temuan ulat kecil di buah rambutan. Dari situ, mereka langsung ubah sistem penyajian buah agar lebih higienis.

‎“Buah berkulit seperti rambutan sudah kami hentikan dulu. Sekarang buah potong kami bungkus plastik, pisang kami taruh di tas kresek berlubang biar nggak lembab,” tuturnya.

SPPG Telaga ternyata punya standar ketat soal kebersihan dapur. Setiap karyawan wajib pakai APD lengkap dan ganti pakaian sebelum masuk dapur.

“Baju dari rumah nggak boleh dipakai di dapur. Mereka ganti pakaian di lokasi dan semua peralatan dipastikan bersih,” kata Celine.

Tak hanya itu, bahan makanan juga diawasi langsung oleh ahli gizi, asisten lapangan, dan akuntan. Kalau ada bahan yang tak sesuai standar, langsung dikembalikan ke supplier.

“Kami punya kontrak dan fakta integritas dengan pemasok. Kalau bahan nggak bagus, kami berhak menolak,” tambahnya.

Proses memasak pun dilakukan tanpa menyimpan makanan semalam.

“Kami masak mulai tengah malam, sekitar jam 12 untuk nasi dan jam 1–2 dini hari untuk lauk dan sayur. Kami masak bertahap, bukan sekaligus tiga ribu porsi,” jelasnya.

Dengan semua langkah itu, Celine berharap masyarakat bisa memahami duduk perkara sebenarnya.

“Kami terbuka untuk evaluasi, tapi jangan langsung menyimpulkan. Yang jelas, kami akan terus berbenah agar makanan anak-anak tetap aman dan bergizi,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.