INDO24JAM.ID, Gorontalo – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menyerukan agar para perempuan hebat di Gorontalo tidak saling berkompetisi, melainkan saling memotivasi dan menguatkan.
Seruan ini disampaikan usai dirinya menghadiri Pelantikan Pengurus Forum Penggerak Perempuan Bina Mandiri (FPPBM) Gorontalo Masa Bakti 2025-2030 di Hulonthalo Ballroom, Sabtu (18/10/2025).
Wagub Idah Syahidah menekankan bahwa FPPBM, yang baru saja dikukuhkan, harus segera beraksi nyata dan bersinergi dengan kebutuhan daerah.

Ia secara khusus menyoroti tingginya angka stunting dan usia pernikahan dini sebagai isu aktual yang harus menjadi fokus utama gerakan perempuan di Gorontalo.
“Saya harapkan juga setelah mereka dikukuhkan, ada aksi kerja nyata yang bisa berkolaborasi atau bersinergi dengan kebutuhan daerah,” kata Wagub. “Isu-isu aktual Gorontalo adalah tingginya stunting dan usia pernikahan dini. Nah, ini menjadi PR buat mereka.”
Menanggapi peran perempuan dalam pembangunan, Wagub Idah Syahidah menegaskan bahwa jiwa kepemimpinan telah melekat pada perempuan, bahkan pada mereka yang berasal dari desa atau berpendidikan rendah.
“Sebetulnya perempuan itu dari awal memang sudah mempunyai jiwa kepemimpinan… di saat dia mempunyai alasan untuk mempertahankan dirinya, pasti dia akan menjadi seorang pemimpin,” jelasnya.
Ia menambahkan, jiwa ini perlu diasah melalui pelatihan dan informasi. Namun, Wagub menyampaikan pesan penting mengenai solidaritas antar sesama perempuan. Ia menggunakan istilah lokal yang menarik perhatian: “Jangan tutuhia.”
“Saya harapkan juga perempuan-perempuan Gorontalo itu jangan tutuhia, jangan merasa bersaing apabila ada perempuan-perempuan hebat di sekitarnya. Bahkan itu bisa menjadi salah satu penggerak kita, salah satu motivasi kita agar kita bisa seperti mereka,” tegasnya.
Wagub Idah Syahidah menyatakan keyakinannya terhadap FPPBM karena didirikan oleh lembaga pendidikan ternama, Yayasan Bina Mandiri Gorontalo (UBM), dan diisi oleh pengurus yang memiliki rekam jejak mumpuni di berbagai organisasi.
“Ini adalah nilai plus mereka sebagai penggerak agen perubahan perempuan-perempuan Gorontalo,” ujarnya.
Selain fokus pada perlindungan perempuan dan anak serta isu stunting/nikah dini, FPPBM juga didorong untuk menjadi penggerak ekonomi.
Wagub berharap FPPBM dapat memberikan pendampingan agar usaha-usaha yang digerakkan perempuan tidak hanya berhenti di level Gorontalo, tetapi juga bisa merambah pasar di luar daerah.
“Apalagi lembaga pendidikan UBM ini dengan ada fakultas ekonomi, fakultas yang semuanya adalah penunjang perempuan-perempuan, ini saya yakin bisa membantu program-program pemerintah dan presiden,” pungkas Wagub Idah Syahidah.







