INDO24JAM.ID, Gorontalo — Dalam khutbah Jumat di Masjid Darul Falah Tuladenggi, Kabupaten Gorontalo, Jumat (28/11/2025), Ketua Umum Paguyuban Warga Pasundan Pusat Gorontalo (PWP-PG), Dr. H. Adnan, M.Ag atau Kang Adnan, menyampaikan pesan agama yang menarik perhatian jamaah: bahwa tidak semua bentuk kesombongan tercela.
Ada kondisi tertentu di mana sifat yang umumnya dibenci ini justru dapat menjadi terpuji, sebagaimana dijelaskan ulama besar Abu Sa’id Al-Khadimi.
Mengawali khutbah, Kang Adnan menegaskan bahwa sombong atau pongah pada dasarnya adalah sifat buruk yang muncul saat seseorang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain.
Kesombongan, kata dia, adalah kondisi ketika hati merasa melayang karena membandingkan diri dengan kekurangan orang lain. Ia mengutip penjelasan Abu Sa’id Al-Khadimi dalam kitab Bariqah Mahmudiyyah, bahwa sombong adalah “perasaan nyaman dan bahagia ketika melihat diri berada di atas orang lain.”
Sikap seperti ini, menurutnya, sangat tercela karena sama saja memosisikan diri sejajar dengan Tuhan yang Mahasempurna.
Kang Adnan kemudian membacakan firman Allah dalam Surat Al-Isra’ ayat 37–38 yang mengingatkan manusia agar tidak berjalan di muka bumi dengan kesombongan, karena perbuatan itu sangat dibenci Allah. Namun demikian, ia menjelaskan adanya pengecualian.
“Dalam keadaan tertentu, kesombongan bisa berubah menjadi sifat terpuji. Bukan karena meninggikan diri, tetapi untuk tujuan kemaslahatan,” ujarnya.
Ia merujuk pandangan Imam Abu Sa’id Al-Khadimi bahwa ada tiga bentuk kesombongan yang justru dipuji agama. Yang pertama adalah kesombongan kepada orang sombong.
Menurutnya, merendah di hadapan orang yang congkak hanya membuat mereka semakin terjerumus dalam keangkuhan, sementara sikap angkuh yang ditujukan balik dapat menjadi cara menyadarkan mereka.
Ia mengutip pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa orang yang paling zalim adalah mereka yang tetap merendah kepada orang yang congkak dan berpaling darinya.
Bentuk kesombongan terpuji berikutnya adalah kesombongan di medan perang, yang bukan berasal dari hati tetapi merupakan strategi untuk mengguncang moral musuh dan memperkuat keberanian pasukan sendiri.
Sisanya adalah kesombongan saat bersedekah, yakni menunjukkan bahwa pemberi tidak membutuhkan harta yang diserahkan agar penerima tidak merasa rendah diri.
“Kadang tawadu justru tidak tepat saat bersedekah, karena bisa menyinggung hati penerima,” tutur Kang Adnan
Ia juga membacakan hadis riwayat Jabir ra yang menyebutkan bahwa “kesombongan yang dicintai Allah adalah kesombongan di medan perang dan kesombongan ketika memberi sedekah.”
Mengakhiri khutbah, Kang Adnan mengajak jamaah memahami konteks kesombongan terpuji agar tidak salah mempraktikkannya.
Ia menegaskan bahwa kesombongan yang dilarang adalah merasa diri paling hebat, paling benar, dan merendahkan orang lain tanpa alasan syar’i.
“Semoga kita jauh dari kesombongan yang tercela dan mampu menempatkan diri secara tepat dalam setiap keadaan,” tutupnya.
Khutbah ini mendapat perhatian jamaah karena membahas konsep religius yang jarang diulas dalam kajian umum, namun memiliki dampak besar dalam kehidupan sosial dan spiritual umat. (*)
Kang Adnan Paparkan Kesombongan yang Terpuji dalam Khutbah Jumat









