Kang Adnan: Ibadah Kurban, Refleksi Totalitas Kehambaan

oleh -394 Dilihat

INDO24JAM.ID, Gorontalo – Idul Adha bukan hanya menjadi momentum berbagi daging kurban, tetapi juga sarana bagi umat Muslim untuk merefleksikan totalitas kehambaan kepada Allah SWT.

Hal itu disampaikan Kang Adnan, akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, dalam kajian mendalamnya mengenai esensi ibadah kurban.

Menurut Kang Adnan, ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan pada 10 hingga 13 Dzulhijjah.

Secara etimologis, kata kurban berasal dari bahasa Arab qariba–yaqrabu–qurban, yang berarti mendekat.

“Artinya, ibadah kurban ini adalah simbol mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan yang tulus,” jelasnya.

Dalam konteks syariat, kurban disebut udhhiyah, yaitu menyembelih hewan pada waktu dhuha selama Hari Raya Idul Adha dan tiga hari tasyrik.

Kang Adnan menekankan bahwa kurban memiliki dua dimensi penting, vertikal dan sosial.

“Secara vertikal, kurban adalah wujud penghambaan dan upaya mendapatkan keridhaan Allah. Secara sosial, kurban menggembirakan fakir miskin dan mempererat persaudaraan,” ujarnya.

Kang Adnan menegaskan bahwa kurban bukan hanya ritual fisik. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Hajj ayat 28.

“Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir,” jelasnya.

“Ibadah kurban ini bukan sekadar darah dan daging yang sampai kepada Allah. Yang diterima Allah adalah ketakwaan, keikhlasan, dan totalitas kita dalam menaati perintah-Nya,” tutur Kang Adnan.

Kang Adnan juga mengutip hadits Rasulullah SAW yang menegaskan keutamaan ibadah kurban:

“Tidak ada suatu amalan yang lebih dicintai Allah pada hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduk, bulu-bulu, dan kuku-kuku kakinya…” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bahkan, Rasulullah SAW memberi peringatan keras bagi mereka yang mampu namun enggan berkurban:

“Siapa yang memiliki kelapangan untuk berkurban, tetapi ia tidak mau berkurban, maka sesekali janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Lebih dari itu, Kang Adnan menjelaskan bahwa ibadah kurban adalah simbol pengorbanan total, di mana seorang hamba rela “mengorbankan” nafsu, egoisme, dan kepentingan pribadi demi meraih ridha Allah SWT.

“Kurban adalah refleksi dari pengabdian yang paripurna. Ia mengajarkan keikhlasan, pengendalian diri, dan empati kepada sesama,” pungkasnya.

Semangat Idul Adha tahun ini, lanjut Kang Adnan, hendaknya menjadi momentum untuk mempertebal keimanan dan menumbuhkan semangat berbagi di tengah masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.