INDO24JAM.ID, Gorontalo – Jabal Rahmah di Padang Arafah, Arab Saudi, bukan sekadar destinasi ziarah spiritual bagi jutaan jemaah haji.Lebih dari itu, bukit yang dikenal sebagai tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa itu menyimpan pesan universal tentang cinta, pengampunan, dan rekonsiliasi.
Hal ini disampaikan oleh Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Adnan, M.Ag, atau yang akrab disapa Kang Adnan, dalam sebuah diskusi reflektif menjelang puncak ibadah haji 1446 H.
“Secara bahasa, Jabal berarti gunung, dan Rahmah berarti kasih sayang. Maka Jabal Rahmah bisa dimaknai sebagai Bukit Kasih Sayang,” ungkap Kang Adnan, Rabu (18/6/2025).
”Tempat ini adalah simbol rekonsiliasi tertua umat manusia tempat Adam dan Hawa kembali bertemu setelah perpisahan panjang sejak diturunkan dari surga,” tambah Kang Adnan.
Bukit yang terletak di Padang Arafah itu juga diyakini sebagai lokasi turunnya wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surah Al-Maidah ayat 3, menjadikannya sangat sakral dalam sejarah Islam.
Menurut Kang Adnan, kisah Jabal Rahmah merefleksikan esensi dari rekonsiliasi: pertemuan setelah keterpisahan, pengampunan setelah kesalahan, dan kasih sayang setelah ujian.
“Rekonsiliasi tidak hanya bicara tentang kembali bersatu, tapi juga tentang keberanian mengakui luka, meminta maaf, memaafkan, lalu melangkah ke depan dengan kepercayaan baru,” ujarnya.
Ia menambahkan, rekonsiliasi sejatinya membutuhkan empat syarat penting: niat baik dari pihak-pihak yang terlibat, pengakuan kesalahan dan kesediaan meminta maaf, pemberian maaf dan melupakan masa lalu, serta upaya membangun kembali kepercayaan.
Di tengah berbagai konflik sosial dan politik, Kang Adnan menilai pesan dari Jabal Rahmah sangat relevan untuk bangsa ini.
“Jabal Rahmah mengajarkan bahwa perbedaan, kesalahan, bahkan perpisahan pun bisa menemukan jalan pulang jika ada kasih sayang dan kerendahan hati,” tegasnya.
Tak heran, banyak jemaah haji yang berdoa di puncak Jabal Rahmah dengan harapan memperkuat cinta, memohon jodoh, atau memulihkan hubungan yang retak.
“Di tempat ini, kasih sayang bukan sekadar perasaan, tapi kekuatan yang menyatukan kembali yang sempat tercerai. Itulah makna terdalam dari rekonsiliasi,” tutup Kang Adnan.









