Kang Adnan: Membangun Budaya Pengentasan Kemiskinan dalam Perspektif Islam

oleh -240 Dilihat

INDO24JAM.ID, Kota Gorontalo — Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Adnan M.Ag atau yang akrab disapa Kang Adnan, menyerukan pentingnya membangun budaya pengentasan kemiskinan berbasis nilai-nilai Islam.

Seruan itu ia sampaikan dalam khutbah Jumat bertema “Membangun Budaya Pengentasan Kemiskinan dalam Islam” di Masjid Al-Hamdulillah, Jalan Durian, Kota Gorontalo, Jumat (17/10/2025).

Khutbah tersebut bertepatan dengan momentum Hari Kebudayaan Nasional (National Cultural Day), Hari Internasional untuk Pemberantasan Kemiskinan (International Day for the Eradication of Poverty), dan Hari Kemiskinan Anak (Child Poverty Day).

Dalam khutbahnya, Kang Adnan menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya dengan bantuan sesaat, tetapi harus menjadi budaya yang tumbuh dalam kesadaran sosial umat Islam. Ia mengutip firman Allah SWT dalam surah Ar-Rum ayat 38:

“Oleh karena itu, berikanlah hak (sedekah dari sebagian rezeki) kepada kerabat dekat, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

‎Kang Adnan menjelaskan, ayat tersebut menegaskan tanggung jawab moral dan sosial bagi setiap Muslim yang memiliki kelapangan rezeki.

Ia mengutip pendapat Imam Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wal Tanwir yang menegaskan bahwa orang yang rezekinya lapang wajib memberi kenyamanan hidup bagi mereka yang kesempitan, sebagaimana ia pun merasa nyaman ketika rezekinya dilapangkan oleh Allah.

‎“Dari sini kita belajar bahwa pengentasan kemiskinan adalah bagian dari budaya Islam bukan hanya amal individual, tetapi sistem sosial yang menegakkan keadilan ekonomi,” tutur Kang Adnan.

Menurutnya, membangun budaya pengentasan kemiskinan dalam Islam dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama: sosial, ekonomi, dan spiritual.

Pertama, pengembangan budaya usaha, yakni mendorong umat untuk mandiri melalui kewirausahaan dan pengembangan ekonomi umat, bukan hanya bergantung pada bantuan.

Kedua, perubahan sikap sosial, di mana masyarakat perlu membangun kesadaran bahwa kemiskinan adalah masalah bersama yang menuntut kerja sama dan solidaritas sosial.

Ketiga, kerja sama multi-pihak, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk menciptakan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pemberdayaan spiritual, yakni menumbuhkan motivasi internal dan perubahan cara pandang terhadap rezeki, kerja keras, dan tanggung jawab sosial.

“Pendekatan spiritual melampaui solusi material. Ia menyentuh akar kemiskinan batiniah yaitu kemiskinan terhadap nilai, kejujuran, dan semangat kerja. Jika nilai-nilai ini hidup, maka kemiskinan struktural pun perlahan akan terurai,” ujar Kang Adnan.

‎Ia menutup khutbah dengan ajakan agar masyarakat tidak memandang kemiskinan sebagai takdir yang pasif, melainkan sebagai tantangan untuk memperkuat iman, memperdalam empati sosial, dan menegakkan keadilan ekonomi sesuai dengan tuntunan Islam.

“Membangun budaya pengentasan kemiskinan bukan sekadar tugas ekonomi, tapi juga jihad kemanusiaan. Islam menempatkan kesejahteraan sebagai bagian dari ibadah sosial yang bernilai tinggi di sisi Allah,” pungkas Kang Adnan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.