Kang Adnan: Menakar Pengibaran Bendera “One Piece” dalam Perspektif Islam

oleh -237 Dilihat

INDO24JAM.ID, Gorontalo – Fenomena pengibaran bendera bergambar simbol One Piece belakangan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Dari truk, perahu nelayan, hingga berdampingan dengan Sang Saka Merah Putih, keberadaan bendera tersebut menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.

Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Adnan M.Ag, atau yang akrab disapa Kang Adnan, turut memberikan pandangan terkait fenomena ini.

Menurutnya, dalam perspektif Islam, pengibaran bendera Merah Putih merupakan bentuk penghormatan terhadap simbol negara dan perjuangan para pahlawan, bukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama.

“Bagi kalangan Nahdliyyin, cinta tanah air (hubbul wathan) adalah bagian dari iman (minal iman). Maka, pengibaran bendera Merah Putih justru dianggap sebagai ekspresi cinta tanah air yang sejalan dengan semangat nasionalisme,” jelas Kang Adnan, Kamis (14/8/2025).

Ia menegaskan, pengibaran bendera tidak bisa dipandang sebagai bentuk penyembahan selain Allah, melainkan sebuah simbol persatuan dan penghormatan.

Terlebih di momentum HUT ke-80 Kemerdekaan RI, pengibaran Merah Putih memiliki nilai edukasi untuk menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda.

Namun, bagaimana dengan fenomena pengibaran bendera One Piece?

Menurut Kang Adnan, secara teologis hal itu tidak termasuk perbuatan yang diharamkan. Meski begitu, ia menilai pengibaran bendera tersebut kurang baik jika ditinjau dari kaidah fikih dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (menolak kerusakan lebih diutamakan daripada meraih kemaslahatan).

“Artinya, jika suatu tindakan punya potensi menimbulkan kerusakan atau kontroversi yang lebih besar, maka lebih baik ditinggalkan. Dalam kasus bendera One Piece, meski sekadar ekspresi sosial, potensi penunggangan isu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab bisa lebih besar dampaknya,” ungkapnya.

Kang Adnan mengingatkan bahwa ekspresi kebudayaan atau kritik sosial sebaiknya dilakukan dengan cara yang tidak menimbulkan kegaduhan, apalagi sampai berpotensi mengganggu stabilitas di momen sakral kemerdekaan.

“Lebih baik tidak mengibarkan bendera One Piece, meskipun mungkin ada nilai positif yang ingin dicapai. Karena prinsip dalam Islam adalah mendahulukan keselamatan dan kemaslahatan bersama,” ujarnya.

Ia menutup dengan ajakan agar masyarakat bersikap bijak dan kontekstual dalam mengekspresikan diri. “Setiap tindakan harus dipertimbangkan dampaknya. Jangan sampai sekadar ekspresi justru melahirkan kerugian yang lebih besar bagi bangsa dan negara,” pungkas Kang Adnan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.