Produksi Beras & Jagung Gorontalo Surplus, NTP Awal Tahun 2026 Merosot

oleh -95 Dilihat
Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, saat Merilis Berita Resmi Statistik, Senin, 02 Februari 2026. Foto/Vivi Humas BPS Provinsi.

INDO24JAM.ID, Gorontalo Kabar gembira dari sektor produktivitas lahan rupanya belum selaras dengan senyum di wajah para petani Gorontalo awal tahun ini. Meski mencatatkan kenaikan produksi pangan yang signifikan sepanjang 2025, angka kesejahteraan petani justru menunjukkan tren yang perlu diwaspadai.

Dalam Rilis Berita Resmi Statistik yang digelar di Kantor BPS Provinsi Gorontalo, Senin (2/2/2026), Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, memaparkan data yang cukup kontras.

Gorontalo harus menerima kenyataan pahit di awal tahun 2026. Nilai Tukar Petani (NTP) Gorontalo pada Januari 2026 merosot sebesar 4,05 persen ke angka 115,99. Penurunan ini bukan sekadar angka biasa; dari 14 provinsi di wilayah Timur Indonesia, Gorontalo mencatatkan penurunan NTP terdalam.

“Penurunan NTP ini disebabkan oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 4,82 persen, yang tidak sebanding dengan penurunan Indeks Harga yang Dibayar (Ib) yang hanya turun 0,80 persen,” jelas Dwi Alwi Astuti.

Meski demikian, ada sedikit angin segar dari sisi pengeluaran rumah tangga. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mengalami penurunan 1,15 persen, terutama dipicu oleh turunnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Kontras dengan angka NTP, kinerja lahan pertanian di Gorontalo sepanjang 2025 justru menunjukkan performa yang luar biasa. Berikut adalah rincian capaian produksi pangan Gorontalo.

Jagung: Luas panen meningkat menjadi 130,52 ribu hektare. Hasilnya, produksi jagung pipilan kering naik 4,36 persen mencapai 653,29 ribu ton. Optimisme pun berlanjut ke kuartal pertama 2026, di mana potensi produksi periode Januari–Maret diperkirakan mampu mencapai 219,45 ribu ton.

Padi & Beras: Sektor padi mencatatkan lonjakan fantastis. Produksi Gabah Kering Giling (GKG) naik 19,72 persen menjadi 281,17 ribu ton. Imbasnya, ketersediaan beras untuk konsumsi penduduk Gorontalo kini surplus, mencapai 157 ribu ton—naik lebih dari 25 ribu ton dibanding tahun sebelumnya.

Data ini memberikan kesan kuat bahwa Gorontalo sukses menjadi lumbung pangan yang produktif. Namun, tantangan besar kini ada pada pundak pemerintah daerah: bagaimana memastikan melimpahnya hasil panen ini tetap mampu menjaga harga di tingkat petani agar daya beli mereka (NTP) tidak terus tertekan.

Potensi panen raya jagung di depan mata (Januari-Maret) harus dikelola dengan manajemen harga yang tepat agar “banjir” stok tidak semakin menjatuhkan harga jual di tingkat petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.