Sejarah Paguyuban Warga Pasundan Pusat Gorontalo, Merawat Budaya, Membangun Daerah

oleh -1553 Dilihat
Kang Adnan jadi calon tunggal Ketua Umum Paguyuban Warga Pasundan Pusat Gorontalo. Foto: Kolase Indo24jam.id.

INDO24JAM.ID, Gorontalo – Sejarah kedatangan orang Sunda di Gorontalo tidak hanya terkait dengan kebijakan transmigrasi, tetapi juga melibatkan perantauan mandiri yang berlangsung sejak pertengahan abad ke-20.

Kehadiran masyarakat Sunda di daerah ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi di Gorontalo.

Pada tahun 1950-an, kebijakan transmigrasi yang digalakkan pemerintah Indonesia mulai membawa masyarakat Sunda ke Gorontalo.

Gelombang pertama kedatangan tercatat antara tahun 1950 hingga 1960, saat sebanyak 65 Kepala Keluarga (KK) asal Jawa Barat, khususnya Priangan, ditempatkan di kawasan transmigrasi di Paguyaman, Kabupaten Boalemo.

Mereka bukan hanya sekadar pendatang, tetapi juga pelopor dalam pembukaan lahan pertanian baru di luar Pulau Jawa.

Gelombang berikutnya terjadi pada tahun 1962, ketika rombongan ke-11 tiba di Gorontalo, berangkat dari Surabaya menuju Pelabuhan Gorontalo, kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Sidodadi.

Hingga saat ini, jumlah masyarakat Sunda di Gorontalo terus berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah.

Masyarakat Sunda datang ke Gorontalo melalui berbagai jalur. Selain transmigrasi, banyak yang datang merantau secara mandiri untuk berdagang, bertani, dan bekerja di berbagai sektor.

Beberapa orang juga datang untuk mengabdi dalam pemerintahan dan keamanan.

Transportasi yang digunakan pada masa itu mayoritas adalah kapal laut, mengingat terbatasnya akses transportasi udara. Perjalanan jauh ini akhirnya mempererat hubungan antar-komunitas yang ada di Gorontalo.

Saat ini, masyarakat Sunda telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan ekonomi di Gorontalo.

Mereka hadir di berbagai sektor kehidupan seperti militer, kepolisian, aparatur sipil negara (ASN), serta sektor ekonomi seperti pedagang, petani, nelayan, dan buruh.

Selain itu, banyak generasi muda keturunan Sunda yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, menjadi harapan baru dalam membangun daerah ini.

Tidak sedikit pula tokoh-tokoh Sunda yang berkiprah di bidang keagamaan, seperti Dr. H. Adnan, M.Ag, yang menjabat di MUI Provinsi Gorontalo dan dosen di IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Tidak hanya dalam sektor sosial dan ekonomi, masyarakat Sunda juga berperan penting dalam pembangunan Gorontalo.

Tokoh-tokoh asal Sunda banyak yang menduduki posisi penting di berbagai instansi pemerintahan, baik di tingkat daerah maupun provinsi. Selain itu, mereka juga turut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan dan keagamaan di Gorontalo.

Sejak tahun 1995, masyarakat Sunda di Gorontalo membentuk sebuah paguyuban bernama Silih Asih yang bertujuan sebagai wadah silaturahmi bagi warga Sunda.

Paguyuban ini berkembang menjadi komunitas yang erat, dan beberapa nama besar seperti Bapak Khatibi, Bapak Dadang Djaelani, hingga Bapak Khaerozi, berperan dalam kepemimpinan paguyuban ini.

Paguyuban ini, yang kemudian berganti nama menjadi DADALI (Wanda Sunda Asli), mencerminkan semangat kekeluargaan dan gotong royong dalam menjaga persaudaraan. DADALI kini menjadi simbol kekuatan komunitas Sunda yang terus berkembang di Gorontalo.

Pada masa kepemimpinan Aang Sumitrawijaya, paguyuban warga Sunda di Gorontalo berubah dengan mendirikan Paguyuban Warga Pasundan (PWP) yang didaftarkan di notaris.

Organisasi ini kini telah mengukir namanya di Provinsi Gorontalo sebagai wadah bagi warga Sunda yang tersebar di berbagai sektor kehidupan.

Pada periode 2021-2024, Dr. H. Adnan, M.Ag terpilih sebagai Ketua Umum PWP Gorontalo. Di bawah kepemimpinannya, PWP semakin mengokohkan perannya dalam memajukan Gorontalo, dengan visi untuk memperkuat persaudaraan dan pemberdayaan ekonomi bagi warga Pasundan di daerah ini.

Pada masa kepemimpinan Kang Adnan Paguyuban Warga Pasundan Pusat Gorontalo bertransformasi menjadi berbadan hukum pada 2022. Tercatat ketua umum PWP-PG pernah dijabat tiga orang, periode pertama Aang Sumitra Wijaya menjabat 2011-2017, lalu dilanjutkan Gusaeri menjabat 2018-2021 dan saat ini ketua umum resmi dijabat oleh Kang Adnan sejak 2021 hingga 2027 mendatang.

Masyarakat Sunda di Gorontalo bukan hanya sebagai pendatang, tetapi sebagai bagian dari kekayaan budaya dan identitas yang hidup berdampingan dengan masyarakat lokal. Mereka telah memberikan kontribusi nyata dalam berbagai bidang, termasuk pemerintahan, pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Keberlanjutan peran mereka di Gorontalo mencerminkan pentingnya kerukunan antar-komunitas dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik.

Seiring dengan semangat kebersamaan yang telah diwariskan oleh pendahulu mereka, komunitas Sunda di Gorontalo akan terus berperan dalam memajukan daerah ini menuju masa depan yang lebih sejahtera.

Komunitas Sunda di Gorontalo juga terus menjaga dan melestarikan warisan budaya mereka, mulai dari seni, tarian, musik, hingga kuliner khas Sunda yang kini banyak ditemukan di berbagai sudut kota.

Dengan segala kontribusinya, orang Sunda di Gorontalo bukan hanya sebagai pendatang, tetapi sebagai bagian dari masyarakat Gorontalo yang beragam dan harmonis. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.