Wajah Ekonomi Gorontalo di Penghujung 2025: Wisatawan Lokal Melonjak, Ekspor Pelet Kayu Tetap Kokoh

oleh -80 Dilihat
Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, saat Merilis Berita Resmi Statistik, Pada Senin, 02 Februari 2026. Foto/Plankton.

INDO24JAM.ID, Gorontalo – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo resmi merilis potret ekonomi daerah edisi Desember 2025. Dalam rilis yang berlangsung pada Senin (2/2/2026) di Kantor BPS Provinsi Gorontalo, terlihat dinamika yang menarik antara sektor pariwisata dan perdagangan luar negeri di Bumi Serambi Madinah.

Ada anomali yang cukup menarik pada sektor pariwisata. Di satu sisi, minat masyarakat untuk berwisata di dalam wilayah Gorontalo mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada Desember 2025 menyentuh angka 482.639 perjalanan, melonjak 6,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun, lonjakan perjalanan ini tampaknya tidak berbanding lurus dengan tingkat hunian hotel. Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, mengungkapkan bahwa Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang justru mengalami kelesuan.

“TPK hotel bintang di Provinsi Gorontalo pada Desember 2025 tercatat sebesar 42,75 persen, atau turun 8,95 poin dibandingkan November 2025,” ujar Dwi Alwi Astuti.

Tak hanya itu, durasi menginap tamu pun cenderung memendek. Rata-rata lama menginap pada hotel bintang turun menjadi 1,53 malam, sementara pada hotel nonbintang berada di angka 1,13 malam. Tren ini mengindikasikan bahwa meski mobilitas warga tinggi di akhir tahun, durasi kunjungan mereka menjadi lebih singkat.

Beralih ke sektor perdagangan luar negeri, kinerja ekspor Gorontalo menunjukkan performa positif yang stabil. Nilai ekspor pada Desember 2025 mencapai US$8,43 juta, naik tipis sebesar 1,00 persen dibandingkan November 2025.

Salah satu catatan penting adalah dominasi komoditas Pelet Kayu (HS 44). Melalui pelabuhan dan bandara di Gorontalo, komoditas ini berhasil menyumbang nilai sebesar US$6,09 juta dengan pasar utama menuju Jepang dan Korea Selatan. Hal ini mempertegas posisi Gorontalo sebagai pemain penting dalam penyediaan energi terbarukan berbasis kayu di pasar internasional.

Di sisi lain, nilai impor Provinsi Gorontalo terpantau jauh lebih rendah dibandingkan nilai ekspornya, yakni hanya sebesar US$332.801, yang mencerminkan neraca perdagangan yang cukup sehat bagi daerah pada periode tersebut.

Menutup rilis tersebut, data ini diharapkan dapat menjadi kompas bagi para pemangku kebijakan dan pelaku usaha untuk menyusun strategi di tahun 2026, khususnya dalam mengoptimalkan lama menginap wisatawan dan mempertahankan momentum ekspor komoditas unggulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.