INDO24JAM.ID, Gorontalo – Sulaman Karawo tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya Gorontalo, tetapi juga telah berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif daerah.
Perjalanan panjang tersebut kini kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui rangkaian Hulonthalo Art & Craft Festival (HARFEST) 2026.
Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah pameran foto yang merekam perkembangan Karawo dari masa ke masa. Dokumentasi tersebut menampilkan berbagai tahapan perjalanan sulaman khas Gorontalo, mulai dari upaya pelestarian hingga pengembangannya menjadi produk yang semakin dikenal luas.
Pada hari pertama pelaksanaan HARFEST 2026, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, turut meninjau langsung pameran sejarah Karawo. Kehadiran tersebut sekaligus untuk memastikan pameran dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan tersendiri bagi masyarakat yang datang ke festival.
Melalui pameran ini, HARFEST 2026 tidak sekadar menghadirkan produk kerajinan, tetapi juga mengajak pengunjung melihat proses panjang di balik berkembangnya Karawo. Perjalanan tersebut memperlihatkan konsistensi kerja bersama antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, perbankan, perajin, hingga berbagai pihak yang selama ini ikut menjaga keberadaan Karawo.
Perjalanan Festival Karawo sendiri telah dimulai sejak 17–18 Desember 2011. Saat itu, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo dan perbankan membangun kolaborasi untuk menjadikan Karawo sebagai bagian dari agenda tahunan yang berfungsi sebagai sarana promosi sekaligus penguatan identitas sulaman khas daerah.
Memasuki 2012, perhatian terhadap pengembangan Karawo semakin luas. Para perajin mendapatkan berbagai pelatihan, tidak hanya terkait teknik menjahit, tetapi juga kemampuan memadukan warna. Promosi mulai diarahkan ke ruang digital, sementara pemetaan pasar dan upaya menyiapkan regenerasi penyulam juga mulai dilakukan.
Setahun kemudian, pengembangan Karawo mulai menyentuh sisi bisnis. Pelaku usaha didorong untuk memperhatikan pengemasan, pemasaran, pengembangan produk, hingga strategi promosi agar Karawo mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Pada periode tersebut, Festival Karawo juga mencatat pencapaian melalui Rekor MURI. Ribuan orang mengenakan kain Karawo dalam sebuah kegiatan yang turut menunjukkan semakin luasnya perhatian masyarakat terhadap sulaman khas Gorontalo.
Popularitas Karawo kembali meningkat pada 2014. Berbagai kegiatan seperti fashion show dan Karnaval Karawo menjadi media untuk memperkenalkan karya para perajin kepada publik yang lebih luas. Kehadiran sejumlah tokoh nasional dalam kegiatan tersebut turut membawa perhatian terhadap keunikan teknik pembuatan dan hasil sulaman Karawo.
Memasuki 2015, Karawo mulai tampil dengan pendekatan yang semakin modern. Sulaman tradisional tersebut dipadukan dengan rancangan busana, kreativitas generasi muda, serta seni pertunjukan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membawa Karawo lebih dekat dengan perkembangan industri fesyen.
Pengembangan Karawo kemudian berlanjut pada 2016 melalui Gorontalo Karnaval Karawo. Kekayaan alam Gorontalo dijadikan salah satu sumber inspirasi dalam karya yang ditampilkan. Pada tahun yang sama, sebanyak 1.000 penyulam Karawo kembali mencatatkan Rekor MURI.
Catatan tersebut sekaligus menunjukkan besarnya kontribusi perempuan perajin dalam mempertahankan keberlangsungan sulaman Karawo. Di balik setiap motif dan tusukan benang, terdapat keterampilan yang diwariskan dan terus dipertahankan dari generasi ke generasi.
Kini, rangkaian perjalanan itu kembali dibawa ke hadapan publik melalui pameran sejarah Karawo di HARFEST 2026. Foto-foto yang dipajang menjadi semacam rekam jejak bagaimana sebuah keterampilan tradisional berkembang menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus industri kreatif Gorontalo.
Karawo pun tidak berhenti sebagai kain tradisional. Perkembangannya menunjukkan adanya proses panjang dalam inovasi, promosi, penguatan kapasitas perajin, hingga perluasan pasar. Semua itu menjadi bagian dari upaya menjaga agar Karawo tetap hidup dan mampu mengikuti perubahan zaman.
Kolaborasi yang terbangun selama bertahun-tahun menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan tersebut. Melalui HARFEST 2026, semangat untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan Karawo kembali diperkuat, dengan tetap menjadikan nilai budaya sebagai fondasi utamanya.
HARFEST 2026 berlangsung hingga Minggu, 13 September 2026. Festival ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai seni, budaya, dan kerajinan khas Gorontalo, termasuk melihat kembali perjalanan panjang Karawo yang telah melewati berbagai fase perkembangan.








