Kopi Liberika Tolinggula Dilirik Buyer Jepang di HARFEST 2026

oleh -19 Dilihat

INDO24JAM.ID, Gorontalo – Kopi Liberika Cempaka Putih dari Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara, mendapat peluang menembus pasar Jepang melalui rangkaian Hulonthalo Art & Craft Festival (HARFEST) 2026.

Kopi yang dipasarkan melalui Dellacious Coffee itu memperoleh business matching ekspor dengan Three United, buyer asal Shibuya, Tokyo, Jepang, dengan nilai mencapai USD5.680.

Kesepakatan tersebut menjadi salah satu capaian penting HARFEST 2026 karena memperlihatkan bahwa produk lokal Gorontalo mulai mendapat perhatian dari pasar internasional.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Bambang Setya Permana, mengatakan peluang tersebut menjadi langkah awal bagi produk lokal Gorontalo untuk membangun kepercayaan di pasar global.

Menurut Bambang, keberhasilan masuk ke pasar ekspor tidak hanya ditentukan oleh keberadaan produk. Pelaku usaha juga perlu membangun kualitas, konsistensi produksi serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.

Peluang ekspor kopi tersebut menjadi semakin penting karena HARFEST 2026 memang dirancang bukan sekadar sebagai ruang promosi produk lokal, tetapi juga mempertemukan UMKM dengan buyer dan mitra usaha.

Sepanjang tiga hari pelaksanaan, HARFEST 2026 mencatat total transaksi sekitar Rp5,66 miliar dengan melibatkan 450 UMKM.
Selain peluang ekspor, business matching juga menghasilkan sekitar Rp820 juta penjualan antara UMKM dengan buyer dan mitra usaha. Sementara komitmen pembiayaan bersama perbankan tercatat sekitar Rp2,91 miliar.

“Capaian tersebut membuka ruang kolaborasi lanjutan dan pengembangan pasar UMKM ke depan,” ujar Bambang.

Menurutnya, perluasan pasar menjadi salah satu kunci agar UMKM tidak hanya bergantung pada konsumen lokal. Karena itu, pertemuan langsung dengan buyer menjadi penting untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka kemungkinan kerja sama jangka panjang.

HARFEST 2026 juga mempertemukan potensi ekonomi kreatif dengan sektor budaya dan pariwisata. Kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) menjadi salah satu bentuk pengembangan ekosistem tersebut.

Sementara melalui Mo Karawo Kolosal, ratusan pelajar diperkenalkan dengan proses menyulam Karawo. Upaya itu sekaligus menjadi bagian dari menjaga keberlanjutan warisan budaya Gorontalo agar tetap dikenal generasi muda.

Tidak hanya Karawo dan kopi, seminar nasional dalam rangkaian HARFEST juga memunculkan potensi inovasi lain, salah satunya pemanfaatan serat daun pisang sebagai material alternatif yang dapat dikembangkan untuk produk kain wastra.

Dari sisi jumlah pengunjung, HARFEST 2026 diperkirakan didatangi sekitar 13.200 orang, meningkat 38,95 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Bagi Bambang, meningkatnya kunjungan, transaksi, pembiayaan hingga peluang ekspor menunjukkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan ekosistem yang mempertemukan produk lokal dengan pasar yang lebih luas.

HARFEST 2026 pun tidak sekadar berakhir ketika panggung festival ditutup. Sejumlah peluang bisnis yang lahir selama kegiatan menjadi modal untuk membawa produk UMKM Gorontalo melangkah lebih jauh, termasuk menuju pasar internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *